News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Santun Bersikap dan Bertutur dalam Perspektif Pragmatik

Santun Bersikap dan Bertutur dalam Perspektif Pragmatik

 Santun Bersikap dan Bertutur dalam Perspektif Pragmatik 


Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum.

Dosen PBSI FKIP UNS, Ketua Umum ADOBSI, & Pegiat LIterasi Arfuzh Ratulisa

Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube: M Rohmadi Ratulisa

"Kawan, tajamnya kata-kata yang diucapkan atau dituliskan akan mampu merobek dan menusuk hati semesta yang tidak akan lekang oleh waktu maka berhati-hatilah dengan sikap, emosi, dan ambisi yang terbalut tuturan"

“Le, kalau bertemu siapa pun, jagalah sikap dan tuturanmu. Ajining diri gumantung lati, lan ajining raga gumantung ing busana ‘Harga diri sesorang bergantung pada tuturannya dan harga diri badan bergantung pada pakaian yang dipakai” itu salah satu pesan Ibu, Bapak, Mbah, dan para sesepuh yang selalu terngiang dalam ingatan setiap saat di mana pun berada. Semua sejawat, kolega, sahabat, guru, dosen, mahasiswa, dan seluruh masyarakat Indonesia tentu pernah mendengarkan nasihat dari kedua orang tua atau guru, dosen, dan masyarakat di sekitar, baik saat dahulu masih kecil, remaja, dewasa, atau bahkan saat membaca tulisan ini. Dalam perspektif pragmatik, khususnya implikatur dan praanggapan, dapat dijabarkan bahwa  maksud yang tersirat dalam ujaran nasihat kedua orang tua tersebut sebagai implikatur dapat dimakanai pesan  baik dan mulia berdasarkan konteks tuturan di mana kalimat itu diucapkan dan kepada siapa disampaiakan. Multigenerasi NKRI dapat membuat praanggapan berdsarkan implikatur tuturan di atas bahwa nasihat tersebut disampaikan kepada anak-anak dan multigenerasi NKRI sebagai upaya untuk membentuk karakter yang baik pada diri anak-anak, remaja, dan seluruh masyarakat Indonesia. Dengan demikian dapat ditegaskan implikatur nasihat tersebut dapat dipraanggapkan bahwa kesantunan dalam bersikap dan bertutur akan sangat menentukan kualitas diri dan kesantunan seseorang dalam menjalani profesi apa pun dan di mana pun keberadaannya dalam segala konteks kehidupan akan dihargai oleh lawan tutur dan partisipan.

Kedalaman ilmu pengatahuan, pangkat, gelar, dan jabatan seseorang tidak menjamin dapat merealisasikan kesantunan dalam bersikap dan bertutur sesuai dengan konteksnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan berbagai fakta yang terjadi dalam media sosial dan kehidupan seharai-hari. Masih banyak kejadian di media sosial terjadi percekcokan, perselisihan dengan kata-kata yang kasar dan tidak selayaknya digunakan, yakni antarteman, anak dengan orang tua, keluarga, sejawat di kantor, sejawat anggota pekerja, sejawat di dunia pekerjaan, sejawat di masyarakat dan berbagai kejadian yang terjadi di sekitar lingkungan kita. Selain itu, umpatan dan saling serang dengan kata-kata dan tulisan yang tidak selayaknya dituliskan sebagai masyarakat Indonesia yang memiliki budaya santun dan saling menghargai tidak seharusnya terjadi. Pemahaman pragmatik khususnya sebagai penutur dan lawan tutur harus memahami multikonteks tuturan yang beragam di dalam masyarakat, baik dalam bentuk teks, koteks, dan konteks. Hal ini sebagai perwujudan untuk dapat menyampaikan implikatur dalam setiap tuturan yang disampaiakan sehingga dapat dipranggapkan secara tepat oleh lawan tutur dan partisipan berdasarkan konteks tuturan atau tulisannya. Prinsip kesantunan dalam bersikap dan bertutur dengan pilihan kata yang tepat menjadi pilihan utama dalam kehidupan bermasyarakat yang bijak dan sadar akan pentingnya saling menghargai dan menghormati sesama manusia dalam berbagai konteks kehidupan.

Keluarga menjadi tempat belajar dan membelajarkan diri untuk berlatih santun dalam bersikap dan bertutur sebagai kelompok masyarakat bahasa terkecil yakni keluarga, yang terdiri atas Bapak, Ibu, dan anak-anak. Ruang kesemestaan keluarga harus dimaksimalkan sebagai kawah candradimuka ‘tempat pembelajaran diri secara sungguh-sungguh dan terus-menerus’ untuk dapat menghasilkan kualitas anak yang dapat menjadi teladan santun dalam bersikap dan bertutur dengan Bapak, Ibu, kakak, adik, kakek, nenek, paman, bibi, dan semua penutur yang ada dalam kotenteks keluarga. Langkah berikutnya, anak-anak harus belajar dan memebelajarakan diri dengan supertim sekolah dan kampus sebagai orang tua kedua setelah di rumah. Guru, kepala sekolah, dosen, rektor, tendik, perangkat terkait di sekolah dan kampus harus menjadikan sekolah jenjang TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan perguruan tinggi sebagai media untuk melatih praktik dengan lingkungan penutur luar dan konteks tuturan yang beragam dalam kebhinekaan. Keberagaman konteks situasi dan kondisi di dunia pendidikan dengan keberagaman masyarakat bahasa pada ranah pendidikan akan semakin melatih kepekaan sosial dan kepekaan diri dalam bersikap dan bertutur dengan multikonteks yang dihadapi. Guru, kepala sekolah, dosen, rector, tenaga kependidikan sekolah dan kampus akan mejadi pengganti orang tua untuk dapat menjadi mitratutur atau partisipan dalam berbagai komunikasi yang dilakukan antarpeserta didik, baik di dalam maupun luar kelas secara komprehensif. Pemahaman multikonteks bagi peserta didik yang dilatih secara terus-menerus di dalam kelas dan luar kelas agar santun dalam bersikap dan bertutur merupakan perwujudan implementasi pragmatik dalam masyarakat pendidikan secara bertahap dan berkelanjutan.

Langkah selanjutnya melepaskan anak-anak sebagai peserta didik dalam masyarakat bahasa yang lebih luas yakni lingkungan masyarakat. Keberagaman penutur, lawan tutur, dan partisipan yang beragam di dalam masyarakat akan menjadi laboratorium kehiduan untuk praktik kemerdekaan bersikap dan bertutur secara rutin. Anak-anak akan praktik berjalan, bersepeda secara mandiri, naik mobil sendiri, naik bus sendiri, dan naik moda transportasi mandiri anatarsekolah ke rumah dan ke berbagai daerah atau wilayah yang dituju bahkan ke 38 provinsi dan 5 benua di dunia ini. Keberadaan masyarakat yang lebih luas sebagai bentuk ruang praktik dan pengujian hasil pembelajaran di rumah, sekolah, dan kampus untuk santun bersikap dan bertutur dengan multikonteks yang dihadapi. Berbagai uji coba dan bentuk permasalahan tentu akan dihadapi, baik dalam bentuk perselisihan kata, sikap, tindakan, dan bahkan mungkin terjadi percekcokan, Namun demikian semua itu harus dijalani sebagai bentuk perwujudan upaya untuk pendewasaan diri dalam bersikap, bertutur, bertindak secara bijak agar betul-betul menajdi manusia Indonesia seutuhnya yang baik, berkarakter dan santun dalam setiap tindakan dan tuturannya kepada semua orang. Dengan demikian pemahaman multiliterasi dengan ratulisa (rajin menulis dan membaca) di rumah, sekolah, kampus, dan masyarakat dengan multikonteks pragmatik yang dilihat, dirasakan, didengar, didiskusikan, dibicarakan, dipertentangkan, dicintai, dan dipraktikan sudah benar-benar menjadi virus-virus positif pragmatik dan psikopragmatik bagi seluruh masyarakat dan multigenerasi NKRI secara berkelanjutan.

Akhirnya semua hal dalam kehidupan semesta akan memantik sikap dan pikiran setiap manusia untuk bersikap dan bertindak secara bijak dan santun dalam multikonteks kehidupan yang dihadapi di mana pun dan kapan pun berada. Marilah mulai dengan memraktikkan santun bersikap dan bertutur  dari diri sendiri untuk berlatih dan belajar pada multikonteks kehidupan di sekililing kita sehingga terlatih santun dalam bersikap dan bertutur agar menjadi teladan bagi anak-anak, remaja, peserta didik, guru, dosen, pegiat literasi, masyarakat Indonesia, dan multigenerasi NKRI untuk selalu santun dalam bersikap dan bertutur, baik dalam kehidupan nyata maupun media sosial. Kata kuncinya santun dalam bersikap dan bertutur dengan multikonteks kehidupan dengan keikhlasan untuk bergerak dan menggerakkan sayap-sayap semesta dengan ratulisa di beranda istana arfuzh tercinta maka akan membuat bahagia dan riang gembira seluruh penghuni semesta raya dengan senyum 228 (dua sentimeter ke kiri, dua sentimeter ke kanan, delapan sentimeter mengembang) untuk membuka ruang rindu bagi semesta raya sepanjang masa di seluruh wilayah Indonesia.

“Bergerak dan menggerakkan saya-sayap semesta akan memberikan ruang rindu untuk kebahagian untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat dengan lantunan doa suci dalam keheningan yang hakiki”

 Yala, Fatoni University, Thailand Selatan, 5 Juni 2023

Tags

Masukan Pesan

Silahkan masukan pesan melalui email kami.