News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Budidaya Tanam Padi Hazton Sebuah Harapan Untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan (Supriyadi, Purwanto, dan Sri Hartati) September 2020

Budidaya Tanam Padi Hazton Sebuah Harapan Untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan (Supriyadi, Purwanto, dan Sri Hartati) September 2020

 Budidaya Tanam Padi Hazton Sebuah Harapan Untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan (Supriyadi, Purwanto, dan Sri Hartati) September 2020


 ditulis kembali oleh Eko Prasetyo (Alexainfoterkini.com) foto : Istimewa

HAZTON merupakan singkatan dari HASIL BER TON TON, merupakan Teknik budidaya padi yang mulai diperkenalkan pada tahun 2012, oleh Ir.H. Hazairin MS, dan Anton Kamarudin, SP, MSi di Kalimantan Barat. Nama Hazton merupakan perpaduan dua nama penemu gagasan ini yaitu HAZ  (Ir. H. Hazairin, Ms) dan Ton (Anton Kamarudin Sp. M.Si.).  Penerapan  metode Hazton di berbagai tempat menunjukkan hasil beragam dengan tingkat produktivitas 6-14 ton  per  hektar. 

Teknik budidaya tanam padi metode Hazton adalah metode penanaman padi dengan menggunakan 20-30 bibit perlubang tanam, umur bibit tua (27-35 hari setelah sebar). Metode ini bertolak belakang dengan metode SRI yang hanya menggunkan 1 (satu) bibit per lubang tanam ataupun cara konvensional yang menggunakan 3 s/d 5 bibit perlubang tanam. Penggunaan bibit berumur tua dan sebanyak 20-30 bibit per lubang tanam (disebut Ombolan) diharapkan semua akan menjadi indukan yang produktif, tanpa harus konsentrasi pada pembentukan anakan lagi, atau diharapkan ada tambahan dari anakan samping. Hasil pendampingan Teknik budidaya padi Hazton di Desa Tinggar Jaya Kecamatan Jati Lawang Banyumas menunjukkan bahwa hasil panen padi ubinan (2,5 X 2 m) dengan metode tanam Hazton hasil panen padi meningkat, dengan  menggunakan varietas Ciherang, luas lahan 2.500 m2 (0,25 Ha) = 2.3 Ton atau sekitar 8,9 Ton/hektar. 


Hazton sebagai teknologi budidya padi yang relative baru, maka pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, baik dari sisi teknologi, ekonomi dan sosial. Beberapa literatur, hasil pengamatan, hasil penelitian, dan wawancara dengan petani menyatakan bahwa metode Hazton memiliki beberapa kekurangan dan kelebihan. Kekurangan atau kelemahan di dalam penerapan metode tanam padi hazton di tingkat petani antara lain: 1) membutuhkan adanya penambahan ketersedian benih yang lebih banyak (4 kali lipat) dari budidaya padi konvensioanl, kebutuhan benih metode hazton berkisar antara 100-120 kg/ha. 2) Kondisi tanaman rimbun maka memerlukan kondisi bibit dan lahan yang sehat, sehingga perlu perlakuan penggunan agensia hayati untuk imunisasi bibit padi, penggunaan dekomposer untuk kesehatan lahan, dan penggunaan bio fungisida untuk pengendalian hama dan penyakit. 3) Kebutuhan pupuk unsur hara makro (NPK), dan pupuk unsur hara mikro serta  pupuk organik perlu tambahan dari dosis normal yang direkomendasikan (anjuran). 4).  


Dan membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak, terutama untuk tenaga pada saat penyiapan bibit untuk tanam. Secara agronomi teknik budidaya padi Hazton memiliki kelebihan antara lain : produksi panen tinggi (hasil berlipat), mudah dalam penanamannya, tanaman cepat beradaptasi/tidak stres setelah tanam, relatif tahan terhadap hama keong mas dan orong-orong, sedikit bahkan tidak ada penyulaman, sedikit bahkan tidak ada penyiangan, umur panen lebih cepat (kurang lebih 10-15 hari), mutu gabah tinggi (sedikit gabah hampa), rendemen beras kepala tinggi (prosentase beras pecah rendah). Secara ringkas tahapan budidaya padi metode Hazton tidak jauh berbeda dengan Teknik budidaya padi konvensioanl. 

Dikutip dari Majalah Trias, tahapan budidaya padi dengan metode Hazton adalah: 1) Persiapan lahan untuk membersihkan rumput dan sisa-sisa jerami (dipotong atau dengan herbisida) kemudian lakukan pengolahan tanah, sekaligus aplikasikan pupuk  organik/kandang sebanyak 500-1.000 kg/Ha dan pupuk dasar SP- 36 sebanyak 150 kg/ha. 2). Aplikasi decomposer untuk mempercepat dekomposisi bahan organik (sisa-sisa jerami dan , rumput) dan untuk meningkatkan kesehatan  lahan. Sebanyak 100 g dekomposer, dilarutkan dalam 1-2 liter air didiamkan selama 3-6 jam kemudian diencerkan untuk 100 liter air, dan disemprotkan merata menggunakan sprayer di jerami yang telah disebarkan merata di lahan. Pastikan kondisi jerami tetap lembab/berair (macak-macak) supaya proses dekomposisi berjalan optimum. Dapat juga diaplikasikan setelah pengolahan tanah selesai. Keperluan untuk 1 ha sawah = 400 liter/ha (4 saset). Apabila menggunakan decomposer cair keperluanya 4 liter/ha, diencerkan dengan 100 liter air per 1 liter decomposer. 3). Persiapan Benih (100-120 kg/ha), pilih benih unggul yang telah dilepas Menteri Pertanian RI atau benih unggul lokal. Perendaman Benih. Benih direndam dengan air bersih selama 24 jam.


 Pemeraman Benih. Setelah direndam, benih diperam dalam karung goni lembab + 24-48 jam, benih tumbuh tunas dan akar siap ditabur/disemai di pesemaian.Benih yang sudah diperam (sudah keluar akar) ditabur merata di bedengan pesemaian. Imunisasi Padi dan Pengendalian Hama Penyakit dipesemaian (Saat umur 7-15 hari setelah semai). 4). Pada saat umur bibit 30-35 hari setelah semai, ditanam dengan jumlah 20-30 bibit/lubang. Jarak Tanam menggunakan Sistem Jajar Legowo (4:1, 2:1). Jarak Tanam 25×20/40 atau 25×30/50. 5). Aplikasi Pupuk Urea 50 kg dan NPK 50 kg pada umur 5-7 hari setelah tanam. Aplikasikan PPC (Pupuk Pelengkap Cair) pada umur 7, 17, 27 dan 37 hari setelah tanam dan dapat dicampur dengan Bio Insektisida. Aplikasi Probiotik Padi pada umur padi: 12, 24, dan 45 hst Dapat dicampur dengan insektisida berbahan aktif Abamiktin dengan konsentrasi 2 cc/liter dan PPC. Aplikasi Pupuk Susulan: Pupuk Urea 50 kg, NPK 100 kg, dan KCl 50 kg pada umur 25 hari setelah tanam. Padi siap panen (relatif lebih cepat 10-15 hari dari cara konvensional). Akhirnya diharapkan bahwa penerapan metode Hazton dapat menjadi sumbangsih yang cukup berarti bagi ketersediaan beras nasional.

Tags

Masukan Pesan

Silahkan masukan pesan melalui email kami.