News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Mengenal Sosok Joko Suranto, Alumnus FH UNS yang Viral Bangun Jalan dengan Uang Pribadi

Mengenal Sosok Joko Suranto, Alumnus FH UNS yang Viral Bangun Jalan dengan Uang Pribadi


Penulis : ditulis kembali oleh eko prasetyo (alexa IT com)

SOLO  – Sosok Joko Suranto, S.H., M.H., seorang crazy rich asal Grobogan, Jawa Tengah mendadak viral lantaran inisiatifnya yang membangun jalan rusak sepanjang 1,8 kilometer menggunakan uang pribadi sebesar Rp 2,8 miliar. Tak disangka Joko seorang alumnus Fakultas Hukum (FH) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang saat ini menjabat sebagai Ketua Yayasan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) FH UNS.


Ia memperbaiki jalan di kampung halamannya yang bertempat di Desa Jetis, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Adapun jalan yang ia perbaiki menghubungkan ketiga desa yaitu Telawah, Jetis, dan Nampu. 

 “Aksi saya ini sebetulnya karena prihatin dengan kondisi jalan yang rusak dan sudah puluhan tahun tidak diperbaiki. Bahkan disitu juga sering menyebabkan kecelakaan,” ungkap Joko dalam sambungan telepon dilansir melalui Instagram @mgradio_network yang tayang pada Selasa (19/4/2022).

Sebagaimana yang diungkapkan Joko, kondisi jalan sudah tak kunjung mendapat perbaikan selama 20 tahun.

“Jalan di Desa Jetis sekitar 3 kilometer menuju kampung orang tua saya dan sangat rusak parah. Memang sekitar 2 kilometer jalanan itu sudah di cor. Hanya saja ketika 3-4 tahun yang lalu sekitar 2 kilometer dari yang sudah di cor ke Telawah menuju masuk ke kampung saya kondisi jalan tak kunjung diperbaiki. Artinya memang hampir 20 tahun tidak pernah ditangani sama sekali jalannya. Istilahnya hanya tambal sulam. Sebelum itu memang pernah di aspal. Tetapi kualitas aspalnya tidak bagus,” terang Joko.

Adapun sampai saat ini, progres penggarapan jalan sudah selesai. Tinggal menunggu aspal mengering. Supaya lebaran bisa segera digunakan masyarakat sekitar untuk lalu lalang terlebih menjelang arus mudik. Joko mengestimasikan tanggal 29 April 2022 jalanan sudah bisa dilalui mobil penumpang. 

Meskipun demikian, awalnya Joko tak menyangka aksinya ini bisa menjadi banyak perbincangan warganet. Mengingat aksi baiknya ini bukan yang pertama kali di lakukan. Sebelumnya ia juga pernah membangun jalan di Kabupaten Bandung, Cicalengka, Subang, juga membangun 30 masjid di Jawa Barat.

“Hal itu biasanya hanya orang sekitar yang tahu. Saya juga heran ketika pembangunan perbaikan jalan di Desa Jetis ini bisa viral di media sosial. Saya sama sekali nggak ada kepikiran untuk sampai viral. Tapi, sudah tidak apa-apa. Jangan dibesarkan. Pada intinya sebagai manusia kita harus berbagi,” tambah Joko.

Banyak yang menanyakan apakah aksinya ini dilakukan dengan tulus atau tidak. Merespon hal ini, Joko mengatakan rasa ikhlas itu berada di hati masing-masing. Ia selalu ingat taglinennya bahwa “jangan takut berbuat baik”.

“Tetapi, ketika kita melakukan sesuatu hal yang nggak ikhlas mau cari apa? Kita nggak cari kepentingan, kecuali bisa menatap kebahagiaan di mata orang terdekat, sahabat kita, kawan kita yang di sana bisa senang dengan adanya pembangunan jalan ini. Itu adalah sesuatu yang indah, tak bisa tergantikan. Kebayang juga kan orang yang melewati jalan itu mendapatkan rasa bahagia yang tak ternilai? Kita tidak mengharapkan pujian dari siapapun. Niat baik dengan tujuan baik, insyaallah akan berkembang baik juga,” jelas Joko. 

Joko melanjutkan bahwa setiap orang sebenarnya berhak untuk berbuat baik. Berhak membangun juga, berbagi kebaikan. Terlepas dari apapun profesinya. Jadi, tinggal diniatkan dan yakin bahwa setiap kebaikan akan kembali kepada kita. 

“Semua orang bisa berbuat baik. Semua orang bisa berbagi kebaikan. Tidak harus jadi pengusaha, tidak harus menjadi pejabat. Tetapi ketika sudah mendapatkan suatu amanah harus banyak berbuat kebaikan, banyak membangun kebaikan. Karena itu kewajiban. Jika tidak bisa melakukannya, maka mundur saja. Karena tupoksinya tidak bisa dilakukan sebagaimana mestinya,” ujar Joko.

Joko pun turut menghimbau kinerja pemerintah yang masih lamban dalam bekerja supaya lebih memahami apa tupoksinya. Serta pro aktif untuk mengajak pihak swasta bekerja sama.

“Ketika tidak bisa menjalankan amanah sesuai tupoksinya, maka banyak belajar. Jangan sampai ketika sudah menjabat ada banyak alasan. Pasti akan bisa. Tagline kami “harus mau, harus bisa”. Jadi hanya orang yang berjalan yang akan sampai. Hanya dengan dikerjakan maka akan selesai. Ketika sudah dikerjakan, maka tidak ada lagi yang susah. Artinya kembali kepada kemauan, kembali kepada niat, kembali kepada sesegera mungkin melakukan hal itu. Pasti bisa,” pungkas Joko. 

Tags

Masukan Pesan

Silahkan masukan pesan melalui email kami.