News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

KKN 47 UNS Gelar Workshop Tentang Branding untuk Pengembangan UMKM

KKN 47 UNS Gelar Workshop Tentang Branding untuk Pengembangan UMKM

 

KKN 47 UNS Gelar Workshop Tentang Branding untuk Pengembangan UMKM


SOLO - 
— Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 47 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta periode Januari hingga Maret 2024 menggelar acara sosialisasi sekaligus workshop untuk pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Bandardawung, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar

Program yang bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Branding: Membangun Identitas Melalui Packaging” dilaksanakan dengan mendatangkan Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS, Dyah Yuni Kurniawati, S. Sn., M. Sn. pada Minggu (4/2/2024) kemarin. Kegiatan ini menjadi program kerja utama dari kelompok KKN 47 UNS dalam rangka pengembangan sektor ekonomi yaitu optimalisasi UMKM Desa Bandardawung serta memperkenalkan inovasi-inovasi kemasan yang dapat dilakukan oleh para pelaku usaha.

Kegiatan ini diadakan karena kelompok KKN 47 melihat UMKM di Desa Bandardawung dapat dioptimalisasikan lagi hasil produk-produknya menjadi produk yang lebih menarik dan bernilai lebih tinggi. Sasaran pelaksanaan program kerja ini yaitu para pelaku UMKM di Desa Bandardawung serta tokoh masyarakat.

Mengawali pembukaan acara, Kepala Desa Bandardawung, Sunarno menjelaskan harapannya agar pelaksanaan acara ini dapat membawa manfaat untuk kemajuan UMKM Bandardawung. “Mohon nanti bimbingan dari ibu atau dari mas dan mbak. Mudah-mudahan UMKM di Desa Bandardawung bisa berkembang dengan bantuan apapun dari ibu dan dari mas mba KKN,” Kata Sunarno.

Dosen FSRD UNS, Dyah Yuni Kurniawati, S. Sn., M. Sn. mengatakan, acara dimulai dengan pemaparan dan dilanjutkan pelatihan dengan cara dibagi menjadi lima kelompok.

“Bukan hanya produknya saja, tetapi orang yang membuat produk juga perlu di branding,” ujar Dyah.


Founder Solo Art market tersebut juga berharap agar pemilik UMKM di Desa Bandardawung dapat mengembangkan produk-produknya menjadi produk kelas menengah ke atas.

“Ibu-ibu harus mengubah mindsetnya dari yang awalnya cuma pekerja pembuat produk tapi juga juragan yang bisa membranding produk sehingga produk itu tidak hanya masuk ke tengkulak saja tapi juga masuk ke kelas menengah ke atas,” imbuh Dyah.

Dyah juga menjelaskan pentingnya product knowledge dalam membuat kemasan. Di dunia ekspor, product knowledge atau pengetahuan produk menjadi komponen yang dinilai pertama kali dari sebuah produk.

Antusias masyarakat terlihat jelas ketika pelaksanaan pelatihan yang didampingi oleh anggota KKN 47 UNS. Banyak penggiat UMKM yang memahami pentingnya branding dalam sebuah produk dan perlunya membuat kemasan yang menarik untuk meningkatkan nilai produk.

Tags

Masukan Pesan

Silahkan masukan pesan melalui email kami.