News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Kolom Herwindya : Kartini & Semangat Emansipasi Perempuan

Kolom Herwindya : Kartini & Semangat Emansipasi Perempuan

Kartini & Semangat Emansipasi Perempuan

 Sri Herwindya Baskara Wijaya

Peneliti dan Ketua Research Group Kajian dan Terapan Komunikasi

Universitas Sebelas Maret (UNS)

Pemerhati masalah sosial, politik dan keagamaan

 

ditulis kembali oleh Eko Prasetyo (www.Alexainfoterkini.com)

Kartini & Semangat Emansipasi Perempuan

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia, khususnya kaum perempuan, selalu memperingati Hari Kartini. Sebuah momen bersejarah yang sangat penting yang mengingatkan umat manusia tentang arti penting nilai kesetaraan gender yakni antara pria dan wanita adalah setara kedudukannya. Peringatan Hari Kartini sendiri tidak lepas dari peran dan jasa yang monumental dari Raden Ajeng Kartini atau Raden Ayu Kartini, sosok pejuang kemerdekaan Indonesia yang cerdas, tangguh dan visioner. Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964, pada 2 Mei 1964 sekaligus menetapkan hari lahir Kartini yakni 21 April sebagai Hari Kartini dan untuk diperingati setiap tahunnya. Namanya digunakan dalam berbagai bentuk dari wujud perangko, nama jalan, gedung, karya buku, novel, drama musikal, film hingga nama pantai (Pantai Kartini di Jepara, Jawa Tengah). 

Namanya juga diabadikan dalam sebuah lagu nasionalistik berjudul “Ibu Kita Kartini” karya Wage Rudolf Supratman (1903-1938), yang selalu berkumandang setiap tanggal kelahirannya, 21 April. Bahkan nama Kartini digunakan sebagai nama jalan di Negeri Kincir Angin, Belanda seperti Kartinistraat (Jalan Kartini) di Venlo dan Harlem, atau Raden Adjeng Kartinistraat (Jalan Raden Adjeng Kartini) di Amsterdam, dan R.A. Kartinistaat (Jalan R.A. Kartini) di Utrech. Kartini lahir di Rembang, Jawa Tengah pada 21 April 1879 dan wafat juga di Rembang pada 17 September 1904. Dirinya adalah seorang priyayi (bangsawan Jawa), puteri dari Raden Mas Adipati Arya Sosoningrat (1845-1905), seorang Bupati Jepara kala itu, dengan Mas Ajeng Ngasirah, puteri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari garis ayah, Kartini masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sultan Hamengku Buwono (HB) VI karena kakek Kartini, Kanjeng Pangeran Aryo Tjondronegoro Adiningrat IV, menikah dengan Gusti Kangjeng Ratu Hayu bin HB VI, putri ke-10 dari Sultan Hamengkubuwana VI (Mandoyokusumo, 1988). 

Bahkan, dari garis silsilah ayahnya, Bupati Arya Sosroningrat, Kartini disebut masih memiliki garis keturunan darah biru dengan Kerajaan Majapahit (Monash Asia Institute, 2005), dan masih berkerabat dengan raja-raja Madura mengingat ibu tiri Kartini yakni Raden Adjeng Woerjan (Moerjam) adalah bangsawan keturunan langsung Raja Madura (tempo.co, 16/9/24). Paman dari Kartini, yakni Raden Mas Ario Hadiningrat adalah Bupati Demak kala itu yang juga sebagai ketua perhimpunan bupati seluruh Jawa dan Madura. Paman dari Kartini lainnya, yaitu Raden Mas Adipati Tjondronegoro adalah Bupati Brebes saat itu yang juga seorang penulis terkenal berbahasa Belanda (Tashadi, 1986). Kartini memiliki tujuh saudara kandung dan tiga saudara tiri, salah satunya adalah Raden Mas Panji Sosrokartono yang dikenal sebagai polygot karena mahir 26 bahasa asing dan 10 bahasa nusantara. Oleh orang Eropa, dirinya dijuluki “Si Jenius dari Timur” (tempo.co, 24/4/24). Kartini menikah pada 12 November 1903 dengan Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat, Bupati Rembang periode 1889-1912 dan dikaruniai putera semata wayang bernama R.M. Soesalit Djojoadhiningrat (13 September 1904-17 Maret 1972).

Kartini dikenal sebagai tokoh utama dalam aras perjuangan emansipasi wanita Indonesia. Dirinya dikenal berusaha mengentaskan kaumnya dari kebodohan dan keterbelakangan. Kartini berupaya membawa kaum perempuan Indonesia keluar dari kungkungan adat dan kultur patriarki “kanca wingking” serta dari hegemonisasi imperialisme asing. Kartini berusaha mengkonstruksi narasi dan aksi terhadap pembumian spirit emansipasi kaum perempuan di Bumi Pertiwi, bahwa marwah kedudukan laki-laki dan perempuan adalah setara. Setara di sini bahwa harkat dan martabat laki-laki adalah sepadan sebagai sesama manusia dan sesama makhluk Tuhan, tidak dibeda-bedakan berdasarkan gender. Nalar emansipasi dari Kartini adalah bahwa perempuan juga bisa tampil dalam panggung kehidupan dengan berbagai prestasi gemilang, tidak sekadar berurusan dengan peran domestik rumah tangga. 

Kaum perempuan di mata Kartini memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki dalam segala bidang kehidupan tanpa harus menanggalkan kodratnya masing-masing. Melalui ketajaman instingnya, kecerdasan pikirannya serta keberanian sikapnya, Kartini berusaha mendobrak kungkungan adat tradisi yang meminggirkan, menyudutkan dan menenggelamkan eksistensi, peran dan citra kaum perempuan dalam kehidupan nyata. Kartini pun pernah berkata, “Kecerdasan pikiran penduduk bumiputera tidak akan maju pesat bila perempuan ketinggalan dalam usaha itu, (yaitu) perempuan jadi pembawa peradaban” (Arbaningsih, 2005). Ia juga mengatakan, “"Perempuan itu jadi soko guru peradaban. Dari perempuanlah pertama-tama manusia itu menerima didikan…Dan betapakah ibu bumi putera akan sanggup mendidik anaknya bila mereka sendiri tiada berpendidikan?" (Surat Kartini kepada Rosa Manuela Abendanon, 21 Januari 1902).


Persentuhan Intelektual

Sejauh pandangan penulis, setidaknya terdapat empat hal yang dipandang memberikan pengaruh kuat kepada Kartini dalam memperjuangkan emansipasi kaum perempuan di Indonesia. Pertama, studi Kartini di Europeesche Lagere School (ELS) atau Sekolah dasar Eropa tahun 1885-1892. ELS adalah sekolah dasar pada masa kolonial Hindia Belanda, yang diperuntukkan bagi anak-anak Eropa dan sebagian bagi anak-anak Tionghoa dan pribumi tertentu. ELS pertama kali didirikan di Weltevreden (Jatinegara) tahun 1817 dengan masa pendidikan selama tujuh tahun dan memiliki dua tingkatan yakni pendidikan dasar dan pendidikan lanjutan. Materi pendidikan dasar meliputi mata pelajaran membaca, menulis, berhitung, bahasa Belanda, sejarah Belanda dan Hindia Belanda, ilmu bumi, pengetahuan alam, menyanyi, menggambar, dan olahraga. 

Sementara, materi pendidikan lanjutan mencakup mata pelajaran bahasa Prancis, bahasa Inggris, sejarah umum, ilmu pasti, menggambar pertanian, olahraga, dan pekerjaan tangan untuk siswa perempuan. Selama bersekolah di ELS, Kartini dikenal sebagai murid yang pandai, banyak membaca buku, bahkan telah memahami pemikiran pejuang perempuan asal India, Pundita Ramambai. Kartini telah melahap sejumlah buku berbahasa Belanda saat usia sebelum 20 tahun seperti Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata) karya Berta Von Suttner serta beberapa buku karangan Van Eeden, Augusta de Witt, Goekoop de-Jong Van Beek (tempo.co, 13/9/22). Tulisannya juga pernah dimuat di De Echo lewat nama pena “Tiga Soedara” (Kartini, Kardinah, Roekmini), De Locomotief, Holansche Lelie, De Gids (tirto.id, 17/9/19; conde.co, 16/4/17).

Di ELS juga, dirinya belajar bahasa Belanda serta pengetahuan umum modern lainnya. Lulus dari ELS tahun 1892, Kartini bermaksud melanjutkan studinya, namun terhalang oleh kebijakan konservatif ayahnya, Raden Mas Adipati Arya Sosoningrat, agar Kartini meneruskan hidup dalam tradisi puteri bangsawan Jawa. Kartini akhirnya menjalani masa pingitan selama empat tahun penuh hingga kemudian menikah dengan Raden Mas Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat, Bupati Rembang kala itu. Sebenarnya, pada 24 Juli 1903 Kartini dikabarkan memperoleh beasiswa dari pemerintah Belanda untuk studi di Negeri Kincir Angin tersebut, atau ke sekolah kedokteran di Betawi. Namun karena dirinya sudah akan menikah, hak beasiswa tersebut diberikan kepada orang lain. 

Meski demikian, pada tahun 1903 Kartini berhasil mendirikan sekolah khusus perempuan di dekat kediamannya di Jepara dengan materi pelajaran membaca, menulis, berhitung dan beberapa keterampilan lainnya. Sekolah ini kemudian menjadi inspirasi bagi pendirian sekolah-sekolah pribumi lainnya di seluruh Indonesia. Bahkan pada 1 Februari 1912 terbentuk Yayasan Kartini yang diresmikan pada 22 Februari 1912. Dari Yayasan itu, kemudian berdirilah sekolah-sekolah Kartini dan tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Bogor, Cirebon, Jakarta, Malang, Madiun, Pekalongan dan wilayah lainnya. Tak heran jika Kartini dianggap sebagai pelopor gerakan emansipasi di Indonesia. Perjuangannya menjadi inspirasi bagi lahir dan tumbuh kembangnya berbagai gerakan perempuan di Indonesia seperti Kartini Fond, Poeteri Mardika, Wanita Taman Siswa, Wanito Oetomo, Aisyiyah, dan lainnya. 


Korespondensi

Kedua, korespondensi intensif dengan para sahabatnya asal Belanda. Kartini diketahui memiliki beberapa sahabat pena asal Belanda, sebut saja seperti Stella Zeehandelaar, Rosa Manuela Abendanon, Jacques Henrij Abendanon, Hendri Hubertus Van Kol, Hilda Gerarda De Booy-Boissev, Marie Ovink-Soer dan Pieter Sijthoff. Melalui media korespondensi ini, Kartini menjadi tahu dan sadar akan pentingnya emansipasi perempuan bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara dan perempuan juga bisa maju berprestasi di berbagai bidang dalam kehidupan. Kumpulan 106 surat Kartini kepada para sahabatnya di Belanda selama tahun 1899-1904 kemudian dibukukan oleh Rosa Manuela Abendanon (1857-1944) - isteri dari Jacques Henrij Abendanon atau J.H. Abendanon (1852-1925), Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda - dan diterbitkan oleh lembaga Kartini Fond dalam bahasa Belanda tahun 1911.

Buku itu diberi judul Door Duisternis Tot Licht: Gedachten Over En Voor Het Javaansche Volk (Dari Gelap Menuju Terang: Pemikiran Tentang dan untuk Rakyat Jawa) atau lebih dikenal dengan nama “Dari Gelap Terbitlah Terang” (Door Duisternis Tot Licht). Judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” terinspirasi dari syair Jawa salah yang dikutip oleh Kartini dalam suratnya kepada J.H. Abendanon, “Habis malam terbitlah terang. Habis badai datanglah damai. Habis juang sampailah menang. Habis duka tibalah suka”. Isi buku tersebut memuat pemikiran Kartini mengenai berbagai hal terkait tradisi feodal yang menindas, pernikahan paksa, poligami oleh para pria bangsawan Jawa serta pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan. Tak disangka, terbitnya buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” ini, memantik munculnya berbagai gagasan di Belanda terkait pendidikan bagi kaum perempuan bumiputera dan kemudian memunculkan Politik Etis atau kebijakan pendidikan bagi pribumi di wilayah Hindia Belanda. 

Pada tahun 1922, buku ini diterjemahkan dalam bahasa Melayu oleh “Empat Saudara” yakni Bagindo Dahlan Abdullah, Zainudin Rasad, Sutan Muhammad Zain dan Djamaloedin Rasad dan diterbitkan oleh Penerbit Balai Pustaka dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran”. Buku terkait diterbitkan ulang lagi dalam bahasa Indonesia oleh Armijn Pane (1908-1971), seorang sastrawan Indonesia dari angkatan Pujangga Baru, pada tahun 1938 melalui Penerbit Balai Pustaka. Selain “Habis Gelap Terbitlah Terang”, terbit pula beberapa buku terkait surat-surat Kartini kepada para sahabat penanya di Belanda, diantaranya Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya (Sulastin Sutrisno, 1972), Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900–1904 (Joost Cote,1992), Panggil Aku Kartini Saja (Pramoedya Ananta Toer, 1982), Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya (Sulastin Sutrisno, 1992), Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903 (Joost Cote, 2004).


Pengalaman Pribadi

Ketiga, pengalaman pribadi terkait budaya patriarki. Saat Kartini masih hidup, ia harus menyaksikan dan mengalami sendiri pahitnya kultur patriarki dalam tradisi keluarga dan masyarakatnya. Budaya patriarki adalah sistem sosial yang memandang laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama sekaligus mendominasi peran kepemimpinan. Budaya patriarki dianggap banyak memberikan dampak negatif bagi kehidupan kaum perempuan, terutama pada aspek marginalisasi, subordinasi, stereotip, tindak kekerasan hingga beban ganda dalam pekerjaan. Baginya, budaya patriarti dipandang bertentangan dengan spirit emansipasi perempuan yang diperjuangkannya, terutama terkait tradisi feodal yang menindas, pernikahan paksa, praktik poligami serta ketidaksetaraan hak pendidikan. 

Sebagai misal terkait hak pendidikan, Kartini mengkritik kondisi pendidikan perempuan bumiputera yang terbelakang dan mendesak adanya perubahan yang berarti. Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelar, 13 Januari 1900, Kartini berkata, “Mencegah pendidikan yang setara untuk rakyat sama saja dengan tindakan Tsar yang mengajarkan perdamaian pada dunia sementara ia menginjak hak dan kebebasan rakyatnya sendiri. Kartini juga berkata dalam suratnya kepada “Anton”, sapaan akrab dari J.H. Abendanon, 4 Oktober 1902, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya.” 

Kartini bahkan pernah mengirim nota panjang 19 halaman kepada Menteri Seberang Lautan Kerajaan Belanda, Alexander Willem Frederik Idenburg (1861-1935) dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Willem Rooseboom (1843-1920) pada awal tahun 1903, “Perempuan Jawa harus dididik, harus diberi pelajaran, harus turut serta dalam pekerjaan raksasa: pendidikan bangsa yang berjuta-juta.” Terkait pembatasan terhadap akses hak pendidikan, Kartini bahkan mengalaminya sendiri saat ayahnya, Raden Mas Adipati Arya Sosroningrat, melarang dirinya melanjutkan studinya selepas dari ELS tahun 1892. Dirinya kemudian diharuskan menjalani masa pingitan selama empat tahun hingga pernikahannya tahun 1903 dengan Raden Mas Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat, Bupati Rembang saat itu.

Tentang poligami, Kartini mengkritik praktik poligami yang umum dilakukan para pria bangsawan Jawa saat itu. Dia menganggap praktik poligami semacam itu lebih banyak merugikan kaum wanita serta melanggengkan praktik ketidaksetaraan gender. Kepada Stella Zeehandelar, 18 Agustus 1899, dalam suratnya Kartini berkata, “Bisa dibayangkan bagaimana siksaan yang harus diderita seorang perempuan jika suaminya pulang bersama perempuan lain sebagai saingannya yang harus diakuinya sebagai istri suaminya yang sah?”. Dalam isi suratnya kepada Hendri Hubertus Van Kol, 19 Agustus 1901, Kartini juga mengatakan, “Saat aku membayangkan mungkin suatu nasib akan menimpakan saya, suatu siksaan yang kejam, yang bernama poligami itu! 'Saya tidak mau' mulutku menjerit, hatiku menggemakan jeritan itu ribuan kali.” Namun, Kartini sendiri adalah korban dari praktik poligami saat itu mengingat suaminya, Raden Mas Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat, telah memiliki tiga isteri saat menikahi Kartini tahun 1903.

Tentang feodalisme, Kartini mengkritiknya sebagai pandangan dan praktik yang sesat dan harus diberantas. Feodalisme merupakan sistem sosial atau politik yang memberikan kekuasaan yang besar kepada golongan bangsawan dan lebih mengagung-agungkan jabatan, pangkat dan keturunan daripada prestasi kerja. Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelar, 18 Agustus 1899, “Sekarang ini kaum bangsawan mengira bahwa mereka adalah makhluk yang lebih tinggi daripada rakyat biasa dan karena itu juga berhak mendapat yang paling baik dari segala-galanya. Ini suatu pendapat yang sesat dan harus diberantas. Jadi jangan malah mengajarkan kepada anak-anaknya supaya dari kecil sudah harus dihormati dan dipanggil dengan gelar yang sudah meniadi 'hak'-nya!”. Ia juga menulis pada surat yang sama, “Bagi saya hanya ada dua macam bangsawan; bangsawan pikiran dan bangsawan budi. Tiada yang lebih gila dan bodoh pada pemandangan saya daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya itu.”

Ketika ada aturan agar dirinya dan juga saudara-saudaranya memanggil nama ibunya sendiri, Mas Ajeng Ngasirah, dengan panggilan “Yu” atau panggilan perempuan abdi dalem, Kartini dengan tegas menolaknya. Aturan ini muncul lantaran ibunya bukan berasal dari darah biru bangsawan dan statusnya hanya sebagai selir. Karena itu juga, Ngasirah juga diharuskan memanggil anak-anaknya sendiri dengan sebutan “ndoro’ atau majikan. Ngasirah juga dilarang tinggal di rumah utama kabupaten tetapi diharuskan tinggal di bagian belakangnya. Akan tetapi Kartini menolak aturan itu dan memilih lebih sering tinggal bersama ibunya. Kartini tidak malu bahwa dirinya keturunan rakyat biasa (kompas.com, 21/4/22). Pun saat menikah dengan Raden Mas Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat, Kartini mengajukan syarat agar ibunya dibebaskan masuk pendapa rumah utama kabupaten serta tidak melakukan prosesi adat pernikahan dengan berlutut dan mencium kaki suami.


Spirit Rohani

Keempat, spirit rohani. Selain dari pengaruh studi di ELS, korepondensi dengan para sahabat penanya di Belanda serta pengalaman pribadi, gagasan Kartini tentang emansipasi perempuan juga sampai batas tertentu juga dipengaruhi oleh spirit rohani. Catatan sejarah menyebut bahwa Kartini merupakan anak asuh rohani dari Kiai Haji Sholeh Darat bin Umar al-Samarani asal Semarang (1820-1903). Kiai Sholeh Darat adalah putera dari seorang pejuang dan salah satu ulama kepercayaan Pangeran Diponegoro, Kiai Umar al-Samarani. Kiai Sholeh Darat adalah guru dari pendiri dua organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari (pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama atau NU pada 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 Hijriyah) dan Kiai Haji Ahmad Dahlan (pendiri Persyarikatan Muhammadiyah pada 18 November 1912 atau 8 Dzulhijah 1330 Hijriyah).

Diceritakan saat masih gadis, Kartini bersama para raden ayu lain asal Jepara sering mengikuti pengajian Kiai Sholeh Darat di Demak. Ketika membahas Surat Al-Fatihah, Kartini muda sangat tertarik dan mengajukan pertanyaan kepada sang ulama, “Apa hukumnya bagi seseorang berilmu tapi menyembunyikan ilmunya?” Pertanyaan cerdas Kartini ini menjadi perenungan Kiai Sholeh Darat yang kemudian menerbitkan tafsir Al-Quran berbahasa Jawa dan ditulis dengan tulisan Arap Pegon. Bagi Kartini, tafsir Al-Quran tidak boleh hanya dimiliki oleh kaum elit agamawan, namun juga kalangan umat umum. Untuk itu, pentingnya penerjemahan kitab suci sesuai dengan bahasa yang lebih bisa dimengerti umat. Pertanyaan ini pula yang turut mengilhami Kartini dalam mentransformasikan ilmunya yakni membebaskan kaumnya dari belenggu keterbelakangan. 

Dalam surat kepada sahabat-sahabatnya di Belanda, sebagian literatur menyebut Kartini pernah menyitir ayat-ayat Al-Quran, salah satunya, “minazh zhulumati ilannur” (QS. Al-Baqarah: 257), yang bermakna dari kegelapan menuju cahaya terang. Makna dari kutipan firman Tuhan ini juga yang oleh sebagian pihak diyakini juga sebagai salah satu sumber inspirasi dalam karyanya Kartini yang terkenal, “Habis Gelap Terbitlah Terang” (Door Duisternis tot Licht). Dalam suratnya kepada Rosa Manuela Abendanon tertanggal 1 November 1900 menunjukkan kepasrahan Kartini kepada Tuhan atas perjuangannya. “Djalan kepada Allah dan djalan kepada padang kemerdekaan hanjalah satu. Siapa jang sesungguhnya djadi hamba Allah, sekali-kali tiadalah terikat kepada seseorang manusia, sebenar-benarnya merdekalah dia.” 

Pada bagian lain pada surat yang sama, Kartini juga menyindir manusia-manusia serakah dengan hawa nafsunya, “… Sekaliannja itu djadi peringatanlah bagi kita manusia jang pitjik ini, ialah supaja djanganlah sekali-kali angkuh… Sungguh sia-sialah manusia jang takabur mengatakan kemauannja sendiri keras sebagai besi, kukuh sebagai tenaga raksasa. Hanja ada satu kemauan yang boleh dan harus ada pada kita ialah kemauan akan bertuankan dia: kesutjian! ... Dia akan mengemudikan kami – menimbang – dengan kasih sajang-Nja…. Dan lihatlah gelap menjadi terang, angin ribut menjadi angin sepoi-sepoi” (Habis Gelap Terbitlah Terang, Balai Pustaka, 2006).


Perempuan Perkasa

Dari surat-surat pribadi Kartini di atas menunjukkan adanya kohesitas energi dan spirit rohani yang diyakininya sebagai muslim dengan spirit emansipasi perempuan yang digelorakannya. Bahwa perjuangan Kartini adalah perjuangan suci tanpa pamrih untuk kebaikan kaumnya, bangsanya dan juga kemanusiaan. Perjuangannya yang kudus menginspirasi dan melampaui batas ruang dan waktu sehingga banyak terlahir apa yang disebut Toeti Adhitama (2010) dengan istilah ‘perempuan-perempuan perkasa’. Laksamana Malahayati, Cut Nya’ Dien, Cut Meutia, Kristina Marta Tiahahu, Nyi Ageng Serang, Nyai Ahmad Dahlan, Dewi Sartika, Maria Walanda Maramis, Fatmawati Soekarno dan lainnya sendiri adalah perempuan-perempuan perkasa Indonesia. Di India, tersebutlah nama Bunda Teressa atau Agnes Gonxha Bojaxhiu (1910-1997), sosok biarawati berdarah Albania yang menghibahkan hidupnya untuk kemanusiaan di Calcutta, India. 

Di India juga, kita mengenal nama besar Indira Gandhi (1917-1984) yang menjabat Negeri Hindustan itu selama 18 tahun (1966-1984). Di Pakistan, nama Benazir Bhutto (1953-2007) adalah sederetan perempuan perkasa di dunia. Ia menjabat Perdana Menteri Pakistan selama dua periode 1988-1990 dan 1993-1996 (Wijaya, 2022; Rizal, 2016). Di Amerika Serikat (AS), kita mengenal beberapa nama perempuan luar biasa seperti Melinda Gates - co-founders Bill & Melinda Gates Foundation, Marry Barra – CEO General Motors, Susan Wojcicki – CEO Youtube, Sheryl Sunberg – CEO Facebook, hingga Hillary Clinton – Menteri Luar Negeri AS tahun 2009-2013. Di Inggris, kita mendengar nama Margaret Tatcher, Perdana Menteri Inggris terlama tahun 1979-1990. Di Jerman kita juga mendapati nama Angela Markel, Kanselir Jerman tahun 2005-2021, peraih Hadiah Perdamaian UNESCO Felix Houphouet-Boigny tahun 2015. Dan masih banyak sederet perempuan perkasa lain dari berbagai belahan dunia, buah globalisasi emansipasi gender.

Demikian halnya dengan sosok Kartini. Meski berangkat dari peran kiprah di Indonesia, namun nama harumnya telah mengglobal dunia. Kartini adalah diantara deretan perempuan-perempuan perkasa dunia yang tapak jejaknya menginspirasi kaumnya. Persinggungannya dengan studi di ELS, korespondensi intensif dengan para sahabat pena di Belanda, pengalaman pribadi atas praktik budaya patriarki di keluarga dan masyarakatnya serta sentuhan spirit rohani dalam majelis ilmu Kiai Sholeh Darat telah memberinya energi pencerahan (renaissance) akan betapa pentingnya pengarusutamaan emansipasi perempuan.

Kartini selalu memikirkan nasib kaumnya. Pada suatu kesempatan ia berkata, “Saya selalu berpikir tentang nasib perempuan, saya sangat prihatin dengan kondisinya, tidak diakui dan tertindas sebagaimana masih banyak terjadi di berbagai bangsa meski kita sudah memasuki zaman pencerahan ini, saya akan membela mereka dengan senang hati dan gagah berani” (Surat Kartini untuk Mevrouw Abendanon-Mandri, Agustus 1900). Tidak heran jika kemudian seorang novelis dan penyair ternama asal Belanda, Louis Coperus (1863-1923) memberi pujian kepada Kartini, “Raden Ajeng Kartini berhasil membebaskan dirinya dari penindasan tradisi yang sempit. Melalui bahasanya yang sederhana dalam surat-suratnya, ia mengidungkan lagu pujian ‘Habis Gelap Terbitlah Terang”.



Tags

Masukan Pesan

Silahkan masukan pesan melalui email kami.