Kuliah Dhuha 2 Ramadhan 1447 H RAMADHAN kAREM oleh Ustadz Ipmawan Iqbal
oleh Ustadz Ipmawan Iqbal
Betapa patut kita bersyukur, karena tak semua yg menanti dapat kembali bertemu. Ramadhan 1447 H hadir seperti tamu agung, mengetuk pelan pintu hati kita; mengingatkan bahwa usia adlh rahasia, dan kesempatan adlh karunia. Setahun yg lalu kita masih menyebut namanya dgn harap, kini ia benar2 datang. Di antara yg pernah duduk bersama kita di Ramadhan sebelumnya, ada yg telah lebih dahulu pulang kepada-Nya. Maka perjumpaan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan panggilan lembut agar kita memaknai hidup lebih dalam.
Ramadhan selalu membawa suasana yg berbeda. Udara terasa lebih teduh, doa2 terdengar lebih jernih, dan hati yg mungkin selama ini berdebu oleh ambisi dan kelalaian—perlahan dibersihkan oleh lapar dan dahaga. Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan ego, amarah, dan kesombongan. Sunyi sahur dan redupnya cahaya menjelang berbuka, kita seperti diajak bercermin: sudah sejauh mana perjalanan jiwa kita? Apakah hidup kita semakin mendekat kpd makna, atau justru tersesat dlm keramaian dunia?
Ramadhan adlh bulan yg mengajarkan kelembutan. Kita belajar merasakan perihnya kekurangan agar tumbuh empati pada sesama. Kita belajar bahwa seteguk air saat berbuka adlh nikmat yg tak ternilai, dan sepotong kurma dpt menggetarkan rasa syukur. Masjid kembali ramai, rumah2 dipenuhi lantunan ayat suci, ada getar haru yg sulit dijelaskan. Seakan langit lebih dekat, dan doa lebih mudah menemukan jalannya. Ramadhan bukan sekadar momentum ibadah, tetapi ruang memulihkan hubungan; dgn Allah, dgn keluarga, dan diri sendiri.
Pertanyaan kita bertemu Ramadhan; bukan hanya berapa kali kita akan berpuasa tapi perubahan apa yg akan kita bawa setelahnya. Jangan biarkan ia berlalu tanpa jejak pada hati. Jadikan bulan ini sebagai titik balik yg menuntun langkah kita ke depan. Karena boleh jadi, inilah Ramadhan yg paling menentukan dlm hidup kita. Ramadhan Kareem; semoga kemuliaannya membasuh jiwa kita, dan keistimewaannya mengantar kita menjadi pribadi yg lebih utuh dan lebih dekat kepada-Nya. Allāhu a‘lamu bish-shawāb.
Betapa patut kita bersyukur, karena tak semua yg menanti dapat kembali bertemu. Ramadhan 1447 H hadir seperti tamu agung, mengetuk pelan pintu hati kita; mengingatkan bahwa usia adlh rahasia, dan kesempatan adlh karunia. Setahun yg lalu kita masih menyebut namanya dgn harap, kini ia benar2 datang. Di antara yg pernah duduk bersama kita di Ramadhan sebelumnya, ada yg telah lebih dahulu pulang kepada-Nya. Maka perjumpaan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan panggilan lembut agar kita memaknai hidup lebih dalam.
Ramadhan selalu membawa suasana yg berbeda. Udara terasa lebih teduh, doa2 terdengar lebih jernih, dan hati yg mungkin selama ini berdebu oleh ambisi dan kelalaian—perlahan dibersihkan oleh lapar dan dahaga. Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan ego, amarah, dan kesombongan. Sunyi sahur dan redupnya cahaya menjelang berbuka, kita seperti diajak bercermin: sudah sejauh mana perjalanan jiwa kita? Apakah hidup kita semakin mendekat kpd makna, atau justru tersesat dlm keramaian dunia?
Ramadhan adlh bulan yg mengajarkan kelembutan. Kita belajar merasakan perihnya kekurangan agar tumbuh empati pada sesama.
Kita belajar bahwa seteguk air saat berbuka adlh nikmat yg tak ternilai, dan sepotong kurma dpt menggetarkan rasa syukur. Masjid kembali ramai, rumah2 dipenuhi lantunan ayat suci, ada getar haru yg sulit dijelaskan. Seakan langit lebih dekat, dan doa lebih mudah menemukan jalannya. Ramadhan bukan sekadar momentum ibadah, tetapi ruang memulihkan hubungan; dgn Allah, dgn keluarga, dan diri sendiri.
Pertanyaan kita bertemu Ramadhan; bukan hanya berapa kali kita akan berpuasa tapi perubahan apa yg akan kita bawa setelahnya. Jangan biarkan ia berlalu tanpa jejak pada hati. Jadikan bulan ini sebagai titik balik yg menuntun langkah kita ke depan. Karena boleh jadi, inilah Ramadhan yg paling menentukan dlm hidup kita. Ramadhan Kareem; semoga kemuliaannya membasuh jiwa kita, dan keistimewaannya mengantar kita menjadi pribadi yg lebih utuh dan lebih dekat kepada-Nya. Allāhu a‘lamu bish-shawāb.