Pengajian Ramadan di UMS: Akidah Islam Berkemajuan Bukan Sekadar Doktrin, tapi Gerakan Peradaban
Pengajian Ramadan di UMS: Akidah Islam Berkemajuan Bukan Sekadar Doktrin, tapi Gerakan Peradaban
ditulis kembali oleh Eko Prasetyo (www.Alexainfoterkini.com)
SURAKARTA - Konsep akidah dalam Islam tidak hanya berhenti pada keyakinan teologis, tetapi harus mampu melahirkan etos peradaban yang membumi dalam kehidupan sosial. Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar Studi Islam, Prof. Dr. H. Zakiyuddin Baedhawy, M.Ag., dalam kajian bertajuk Akidah Islam Berkemajuan.
Dalam pemaparannya, Zakiyuddin menjelaskan bahwa tema tersebut merupakan kelanjutan dari rangkaian Pengajian Ramadan 1447 H Muhammadiyah & ‘Aisyiyah Jawa Tengah Regional Solo Raya di Graha 58 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Peserta Pengajian Ramadan 1447 H Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Jawa Tengah Regional Solo Raya yang digelar di Graha 1958 UMS
Ia menegaskan bahwa pembahasan akidah dalam perspektif Islam Berkemajuan tidak cukup dipahami sebagai doktrin keimanan semata, tetapi harus melahirkan nilai-nilai peradaban yang nyata.
“Saya memberi anak judul materi ini ‘Dari Ortodoksi Tauhid ke Etos Peradaban’. Artinya, tauhid bukan sekadar sesuatu yang kita imani, tetapi harus membumi menjadi etos peradaban dan gerakan peradaban,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi pengajian yang dilakukan secara berulang merupakan bagian penting dalam memperkuat pemahaman umat. Ia mencontohkan banyaknya ayat Al-Qur’an yang diulang sebagai bentuk penguatan pesan. Dalam kaidah tafsir dikenal prinsip at-tikraru lit-taqrir, yaitu pengulangan yang bertujuan meneguhkan pemahaman.
Pertama adalah krisis makna kehidupan. Ia menilai kemajuan peradaban tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan manusia. Ia mencontohkan pengalaman saat berkunjung ke Jepang pada 2005, di mana biaya hidup yang sangat tinggi membuat banyak orang enggan menikah atau membangun keluarga.
“Kadang peradaban sudah sangat maju, tetapi makna hidup justru semakin hilang,” jelasnya, Sabtu (7/3).
Kedua adalah disrupsi teknologi yang mengubah cara manusia berinteraksi. Teknologi membuat kehidupan menjadi serba cepat, tetapi di sisi lain juga berpotensi mengikis kohesi sosial. Ia mencontohkan fenomena masyarakat modern yang bahkan tidak mengenal tetangga sendiri meskipun tinggal bersebelahan.
Ketiga adalah ketimpangan global dan krisis ekologi. Ia mengaitkan fenomena pemanasan global dengan peringatan yang secara metaforis telah disebutkan dalam Al-Qur’an, seperti kerusakan alam akibat eksploitasi berlebihan. Menurutnya, manusia saat ini menghadapi tantangan besar akibat perubahan iklim yang semakin ekstrem.
Keempat adalah munculnya radikalisme agama di satu sisi dan sekularisme ekstrem di sisi lain. Zakiyuddin menilai fenomena tersebut membuat praktik beragama semakin dianggap sebagai urusan privat semata.
“Padahal jika kita ingin menjadikan tauhid sebagai etos peradaban, maka nilai-nilai agama harus hadir di ruang publik, bukan hanya menjadi urusan pribadi,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa akidah dalam perspektif Islam Berkemajuan bukan doktrin pasif, tetapi fondasi etis dan praksis dalam kehidupan sosial. Akidah harus melahirkan tindakan sosial, pengembangan ilmu pengetahuan, serta kemajuan peradaban manusia.
Dalam konteks Muhammadiyah, pemahaman akidah memiliki landasan normatif yang kuat, di antaranya Al-Qur’an dan Sunnah, Muhammadiyah, serta berbagai dokumen organisasi seperti Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, putusan Muktamar dan Tanwir, serta Manhaj Tarjih.
Ia juga menyinggung lahirnya Risalah Islam Berkemajuan yang ditetapkan dalam Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta pada 2022 sebagai panduan penting dalam memahami Islam secara progresif.
Menurut Zakiyuddin, akidah dalam Muhammadiyah memiliki karakter transformatif, progresif, dan berorientasi pada pembangunan masyarakat utama yang adil dan makmur. Tauhid harus melahirkan amal saleh yang berdampak luas bagi masyarakat.
Ia mencontohkan bagaimana Ahmad Dahlan menanamkan etos amal melalui pengajian berulang terhadap Surah Al-Asr kepada murid-muridnya. Dari pemahaman tersebut lahir gerakan sosial yang kemudian berkembang menjadi berbagai amal usaha Muhammadiyah.
“Tauhid harus melahirkan etos amal, kesalehan sosial, dan tanggung jawab sejarah. Amal usaha yang dibangun Muhammadiyah adalah wujud nyata dari kesalehan sosial itu,” ujarnya.
Zakiyuddin juga menekankan pentingnya integrasi antara iman, ilmu pengetahuan, dan tanggung jawab kemanusiaan. Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tanpa landasan moral dapat berujung pada kerusakan.
Menurutnya, nilai tauhid harus menjadi fondasi dalam pengembangan sains dan teknologi agar kemajuan yang dicapai benar-benar membawa kemaslahatan bagi umat manusia.
Ia mencontohkan bagaimana ayat Al-Qur’an tentang pergerakan gunung pernah menginspirasi seorang astronom untuk melakukan penelitian ilmiah menggunakan teknologi satelit. Hasilnya menunjukkan bahwa gunung memang bergerak sangat lambat sebagai bagian dari dinamika bumi.
“Ini menunjukkan bahwa akidah tidak boleh dipahami secara literal semata, tetapi juga perlu berdialog dengan sains,” pungkasnya. (Fika/Humas)